Lucu, wagu dan agak ndongkol ketika aku nulis tulisan ini. Gimana tidak kadang aku membayangkan dan me-remaind apa yang telah terjadi diantara pergaulan sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang bernama manusia ini. Lucu tak kala sebagian dari mereka mengagungkan dan mengharapkan terjadinya hubungan ataupun pergaulan antar sesama yang dilandasi rasa toleransi yang tinggi, tetapi ternyata kalo dipikir-pikir dan direnungkan sejenak ternyata toleransi yang dimaksud hanyalah menguntungkan sepihak saja tanpa melihat hak bagi yang lainnya, sebagai misal, suatu hari si A ngobrol dengan si B kalo si C rasa kepeduliaan terhadap temen kurang bahkan nggak ada, si A bilang begitu karena disaat si A hendak memakai suatu barang si C yang ada dikamarnya pada jam tidur dilarang, hmm…sebenarnya bukan dilarang sie tapi ditegur dikarenakan mengganggu tidur, langsung si C kemudian meradang dengan bilang baru pertama kali minjem aja udah digituin… dan banyak orang-orang yang tanpa melihat detailnya langsung aja pada bersimpati dengan si A, dan ikut menjustifikasi kalo si A kurang peduli. Dari contoh diatas sungguh lucu kalo kita bilang dan teriak bahwa si A, si B atau si C kurang peduli dalam berinteraksi terhadap sesamanya, padahal kalo di liat dan diamati secara lebih dalam ternyata disini maaf nie kata orang itu ”Maling teriak maling”, kan ini suatu hal yang lucu kan dimana sudah waktunya istirahat kita masih mengganggu (baca: hak orang lain) temen kita yang sedang istirahat dan tatkala kita diingatkan untuk tidak mengganggu malah kita bilang temen kita nggak ada rasa pedulinya terhadap sesama. Kita lupa bahwa temen kita pun mempunyai hak yang sama dengan diri kita, kadang kita lupa kita terlalu menuntut temen kita atau orang lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan kita dan tatkala temen kita nggak berbuat sesuai dengan keinginan kita, terus kita ngedumbel alias ngomel-ngomel dibelakang kita. Ini kan hal yang sangat wagu sekali, katanya manusia itu makhluk yang berakal yang nggak mau diatur masalah privasinya oleh orang lain tapi terkadang dengan bermodalkan dukungan ataupun simpati dari orang lain akhirnya kitapun sebenarnya telah merongrong kebebasan orang lain baik dalam bertindak, berbuat dan lain-lain. Seandenya kita mau perpikir sejenak, gimana saat aku menjadi orang yang disuruh atau diatur privasi kita oleh orang lain? Apakah selamanya kita akan nggah- nggeh saja? Terlalu banyak kita membandingkan antara si A yang begini dan si B yang begitu, padahal dari yang dibandingkan aja udah nggak sama, si A orangnya tidurnya pagi sedang si B masih berlalu seperti manusia kebanyakan didunia ini dimana waktu malam hari adalah waktu istirahat. Wagu, wagu sekali lagi wagu…kalo kita masih mau membanding-bandingkan antar sesama kita dalam berinteraksi.

Ndongkol man, gimana nggak ndongkol coy, lha orang menuntut diri kita untuk bertoleransi terhadap orang lain, tapi ternyata orang itu malah lupa kalo diapun sebenarnya juga harus bertoleransi juga tapi nyatanya…

Kadang terkesan lucu dan aneh kalo kita amatin komentar-komentar Gus Dur (Abdur Rahman Wahid) gitu aja kok repot…he…

Iya ada benernya juga statemen Gus Dur, gitu aja kok repot…ngapain kita terlalu ngurusin orang lain, perilaku orang lain padahal belum tentu kita itu lebih baik dari yang kita urusin. Emang bener kata Al Qur’an: Watawashoubil haqqi watawa shoubis-sobri. Ayat itu bener dan sudah seharusnya dilaksanakan, tapi sejauh mana kita sanggup menerima saran, masukan ataupun kritik dari orang lain?Jawabnya hanya ada pada diri kita Sendiri.

Advertisement